X
Warung Soto Ahri, Bertahan 68 Tahun di Gang
Arsip Pribadi

Warung Soto Ahri, Bertahan 68 Tahun di Gang

December 1, 2016 0

Mempertahankan sebuah reputasi hingga puluhan tahun memang sangat sulit dan selalu banyak kendala. Di antaranya, munculnya perbedaan jaman tradisi yang dipertahankan itu selalu luntur terseret oleh gelombang era globalisasi tersebut.

Namun bagi seorang H. Endang, pengelola plus pemilik warung makan “Soto Ahri” tidak demikian. Ia bak sebuah peribahasa, tidak lekang kena panas dan tidak luntur kehujanan. Artinya kemajuan jaman atau era globalisasi dengan banyaknya yang ditawarkan makanan cepat saji dengan serba nama asing, ia tetap bertahan. Malah, ada kisah lucu disaat warung soto yang sangat populer di Garut ini, sangat tidak kerasan untuk mengikut arus jaman yang mulai serba modern.

“Kami pernah membuka cabang dengan menempati toko yang memiliki tempat luas, bahkan terbilang strategis”, tuturnya. Tapi, tambah H. Endang saat ditemui Cang Anwar dari Wahana Trans, di tempat jualannya di bilangan Jl. Mandalagiri Garut Kota ini, sangat di luar dugaan. Sebab, yang semula diperkirakan para pelanggan akan bertambah dan betah dengan tempat baru itu, kini malah sebaliknya

“Omset kami menurun drastis mencapai 50%-an”, akunya. Ternyata setelah diteliti para pelanggan banyak yang ragu, apakah di tempat baru yang serba mengkilap ini benar hidangan “Soto Ahri” yang biasa mereka santap bersama keluarga? Walaupun pertanyaan mereka itu sering dijawab saat bertemu dengan para pelanggan di tempat lain, namun tetap tidak membuat perubahan, malah terus menurun.

“Konon menurut mereka dengan situasi lama dan tempat di mana soto ini dimulai, membuat citra rasa makan soto tetap terpelihara dan selalu merasa seperti dulu”, ujar H. Endang. Karena, alasan yang rata-rata disodorkan oleh para pelanggannya, mereka selain ingin bernostalgia dengan acara kuliner makan pagi semasa muda atau kanak-kanak juga tempatnya sudah terlalu kondang dan memiliki ciri khas. Sehingga dengan adanya keluhan dari para pelanggan tersebut, ia bersama keluarganya untuk tetap bertahan di tempat lama dan tidak akan membuka tempat lain di Garut. Walau hingga saat masih banyak yang menawarkan agar Soto Ahri bisa membuka cabang di lokasi baru dan semuanya ditolak termasuk souvenir shop yang berlokasi di batas kota ke arah Bandung.

Warung makan dengan sajian nasi soto sapi “Ahri” ini, dirintis oleh almarhum H. Ahri sejak pertengahan 1940-an. Dimana saat itu penjajah kolonial Belanda masih bercokol dan warung-warung nasi belum tumbuh menjamur seperti sekarang. Sejak dulu, lokasi tempat jualan nasi soto itu, berlokasi di sebuah gang yang berukuran lebar berkisar dua meteran pas di pinggir toko penjual daging sapi segar di Jalan Mandalagiri. Alat pikul (tanggungan, Sunda. Red) hingga kini masih terus dipakai sebagai tempat jualan. Di mana nasi tersimpan di bakul besar, kemudian panci tinggi besar tempat menyiapkan kuah soto juga sama disimpan di sebelahnya dengan dilengkapi alas papan kayu besar dan tebal untuk mencincang daging sapi menjadi potongan-potongan kecil berbentuk memanjang, atau dadu, dilengkapi sebuah garpu berikut pisau besar pula yang mirip golok kecil.

Sementara meja panjang sekitar tiga meteran dengan lebar satu meter memanjang untuk makan para pelanggan yang sengaja disediakan di sebelahnya. Sedangkan atap agar tidak kepanasan atau kena hujan disaat tamu makan, maka dibentangkan lembaran-lembaran seng yang dijepit belahan kayu yang kemudian ditempelkan di dinding toko milik orang lain. “Situasi dan alat-alat serta menu plus bumbunya kami pertahankan tetap seperti dulu yang kini sudah menginjak usia ke 68 tahun”, aku H. Endang.

Bukan hanya sebatas tempat dan alat jualan yang dipertahankan, tetapi mulai memasak nasi, yang tetap menggunakan dandang besar dengan perapian yang menggunakan kayu bakar. Begitu pula dengan bumbu semuanya rempah-rempah tidak menggunakan penyedap buatan. Bumbu juga ditumbuk tidak menggunakan alat moderen seperti blender dan sejenis. Semua bumbu ditumbuk sesuai dengan yang dikerjakan oleh orang tuanya.

“Kami tetap menyajikan masakan soto sapi ini seperti dulu. Karena kalau berubah menggunakan alat misalnya tidak ditumbuk atau apinya memakai kompor gas, ditakutkan akan berpengaruh kepada cita rasa. jadi lebih baik mempertahankan tradisi daripada harus kehilangan pelanggan,” tegasnya. Daripada harus mengubah bumbu atau alat memasaknya lebih baik mengubah harga jual, tambahnya. Konsep yang dipertahankan tetapi seperti itu, ternyata membuat Soto Ahri bisa bertahan leibh dari setengah abad.

H. Ahri bersama istri (almarhum) merupakan orang tua H. Endang, memang pionir di bidang jualan nasi soto yang hingga kini belum ada yang bisa mengalahkan reputasinya. Selain memiliki rasa yang khas yang tidak bisa ditiru oleh orang lain, juga dengan sajian potongan daging sapi khusus untuk soto yang empuk dan segar. Malah, yang tetap bertahan menjadi permintaan semua pelanggannya yaitu jenis daging kepala serta urat. “Hanya untuk jenis jeroan kami kini tidak menyediakan”, ujar H. Endang.

Ada tiga kelompok pelanggan yang sering datang, jelas H. Endang, pertama para orang tua yang sewaktu masih ada H. Ahri mereka sudah berlangganan. Kemudia, kedua yang dulunya masih anak-anak dan kini telah dwasa atau menjadi orang tua, dan terakhir merupakan pelanggan baru di mana mereka datang ke Garut seabgai tamu kemudian coba mampir ke warung Soto Ahri yang akhirnya terus ketagihan. “Sehingga muncul anekdot dari para tamu yang sering berkunjung ke Garut, katanya apabila ke Kota Garut tidak mampir ke Soto Ahri, sama dengan ke Mekkah tidak mampir ke Madinah,” ujarnya sambil tersenyum.

Keberadaan Soto Ahri, tidak dikenal sebatas orang Garut, tapi dari sejumlah kota besar pun banyak yang mengenalnya. Misalnya dari Jakarta, Bogor, hingga Sukabumi. Mereka mengenal makanan khas Garut ini ketika berkunjung sebagai tamu kerabatnya yang tinggal di Garut, atau pula yang sengaja wisata. Sehingga pada musim liburan, banyak pelanggan yang terpaksa harus antri untuk mendapatkan giliran tempat duduk saking banyaknya pelanggan. Terutama setelah Lebaran, selama satu minggu sejak pagi hingga siang selalu penuh. “Kami sampai kelelahan melayani para tamu,” papar H. Endang.

H. Endang setiap harinya selalu dibantu oleh istri serta anaknya, dan karyawan sebanyak tiga orang. Pada pasca Lebaran itu, pembelian daging sapi segar sampai 100 kg setiap harinya. Sedangkan pada liburan biasa hanya menghabiskan 30 – 50kg. Sementara di hari-hari biasa rata-rata 20 – 30 kg.

Untuk porsi, H. Endang cukup mengenakan tarif Rp 10.000.00*, harta itu setelah mengalami kenaikan terdorong oleh bahan baku yang hingga kini masih tidak stabil. Misalnya dengan kenaikan BBM, walaupun tidak menggunakan minyak tanah, tetapi kayu bakar dan arang kayu ikut naik. Lebih jauh, ia menjelaskan agar warga Bandung yang biasa menikmati hidangan Soto Ahri di Garut, kini sudah satu tahun lebih membuka cabang di Bandung, yaitu di daerah Buah Batu. “Alhamdulillah di Bandung kini sudah mulai banyak pelanggan”, akunya. [Sanusi Taslim, Trans edisi XXVIII, November – Desember 2008]

0

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code