X
Testimonial Ditempa Sang Waktu
Cerpen & Novel

Testimonial Ditempa Sang Waktu

August 25, 2016 0

Terima kasih untuk para pembaca yang sudah memberikan testimonial novel Ditempa Sang Waktu.

Kaum Adam Wajib Baca Novel Ini

Setiap manusia yang memiliki kelebihan, selalu punya kelemahan. Seperti tokoh Gilang dalam novel ini. Saya salut kepada Gilang, tokoh yang smart, dan punya pemikiran yang jauh ke depan. Contohnya saat digugat cerai istrinya, dia berjuang untuk mendapatkan hak asuh anak-anak. Bagaimana seorang ibu bisa mendidik anak-anaknya dengan baik, jika dirinya sendiri tak bisa menjadi contoh, dengan berselingkuh dari Gilang. Saya salut dengan Gilang yang berani mengambil alih tugas membesarkan dan mendidik anak-anaknya seorang diri.

Di sisi lain, saya juga heran dengan sikap Gilang yang kalau boleh saya katakan gampang sekali dibodohi perempuan. Inilah salah satu kekurangan dari Gilang, dibalik semua kelebihannya sebagai laki-laki ganteng, pintar, serba bisa, penyabar. Tetapi semua itu, menjadi pelajaran berharga bagi Gilang. Belajar ikhlas, legowo, dan cepat kembali bangkit setiap kali menghadapi ujian.

Mudah-mudahan makin banyak kaum adam yang membaca novel ini, inspiring banget buat mereka, terutama dalam hal ketegasan sebagai imam keluarga, mendidik anak.

~ Tia Mastia

Sangat Inspiratif, Penuh Pembelajaran dan Motivasi

Sangat inspiratif, terutama yang masih jomblo, baca novel ini supaya tidak terjerumus salah memilih pasangan. MERDEKAA..

~ Dudu

Terbius, Terhanyut, Tergugah

Selesai membaca novel ini, saya seperti terbius, terhanyut, dan bahkan tergugah. Hati, jiwa, dan pikiran saya terasa seperti terhantam ombak begitu besar. Novel ini seperti membangunkan saya, untuk menemukan kembali arah jalan saya
.
Sebelas tahun saya menikah, hidup dengan orang yang sangat mencintai dan menyayangi saya. Tetapi dengan ego yang saya miliki, yang lebih mengedepankan ego, membuat saya buta, hingga tak pernah mau tahu perasaan orang yang mencintai saya.

Kini saya tersadar, tokoh Gilang yang ada dalam novel ini, memiliki kesamaan karakter dengan orang yang selama ini menemani hidup saya, penuh tanggung jawab, sabar, dan selalu optimis dalam menjalani hidupnya. Kesabarannya luar biasa, pandai menyembunyikan perasaan sakitnya selama ini.

Banyak hikmah yang saya ambil dari novel Ditempa Sang Waktu ini. Bahwa ternyata, cinta karena Allah lah yang begitu agung, indah, bersahaja.

~ Kriztya Deva

Ikut Kesal terhadap Perilaku Tokoh di dalam Novel

Saya bukan penggemar novel, jadi waktu Kang Eep tanya pun saya katakan saya bukan penggemar novel. Tetapi saya terima juga tawarannya untuk membaca novelnya. Bahasanya mudah dicerna, beberapa dialog membuat saya tertawa, karena memang lucu, sebagian membuat saya juga ikut kesal dengan perilaku salah satu tokoh perempuan di novel tersebut.
 
Sepertinya kemajuan jaman sudah membuat pergeseran norma. Perempuan menganggap dirinya biasa-biasa saja kalau punya Pria Idaman Lain. Tetapi yang membuat saya tidak habis pikir adalah, kemanakah norma-norma agama yang dianut perempuan itu, jika sudah bersuami tetapi menjalin cinta dengan lelaki lain, secara terang-terangan. Nauzubillah.

~ Nurjanah Zakaria

Emosi Saya Seperti Diaduk-aduk

Saya termasuk penggemar novel. Membaca novel Ditempa Sang Waktu karya Kang Eep serasa dibawa melalui lorong yang berliku-liku. Novelnya enak untuk dibaca, bahasanya sederhana dan mudah untuk dimengerti. Saya sering mendapati novel yang membuat kening pembaca berkerut dan harus bolak-balik membaca paragrafnya untuk dapat mengerti jalan ceritanya.

Meskipun sederhana, tetapi jalan ceritanya sungguh tidak dapat ditebak. Konflik-konflik yang terjadi sungguh di luar dugaan. Emosi saya seperti diaduk-aduk. Saya ikutan marah, ikutan kesel, ikutan sedih dan jujur menangis membaca kisah demi kisah yang diceritakan dalam novel ini.

Kisah demi kisah di dalam novel ini disampaikan seperti nyata, sampai-sampai saya bertanya kepada Kang Eep, apakah saya bisa menemui seorang kyai yang diceritakan dalam novel kang Eep tersebut.

Novel ini, betul-betul mengulas segala hal mengenai cinta, kesetiaan, pengkhianatan, sedikit mengulas juga masalah poligami.

~ Tantri Agustini

Nilai-Nilai Kehidupan Rumah Tangga

Saya kagum dengan kesabaran dari tokoh novel ini. Sosok Gilang yang berjuang untuk mempertahankan rumah tangganya walaupun pada akhirnya gagal, dan perjuangan dia untuk mendapatkan kembali pasangan hidup dan ibu untuk anak-anaknya.

Gilang akhirnya mendapatkan kebahagian setelah mengalami pahit getir perjuangannya. Kesabaran yang berbuah manis.

Dari novel ini saya juga jadi belajar lagi tentang bagaimana memposisikan diri saya sebagai seorang istri. Karena novel ini banyak sekali memberikan nasehat tentang nilai-nilai dalam menjalani kehidupan berumah tangga, tapi tidak terkesan menggurui.

Semoga novel ini bisa menginspirasi banyak orang. Sukses terus Kang Eep. Ditunggu karya-karya berikutnya.

~ Anita Puspita Dewi

Saya Merinding Membacanya

Saya membaca novel ini selama hampir 3,5 jam. Awal membaca, saya sempat merasa risih, karena merasa seperti melihat dengan mata kepala sendiri pertengkaran si tokoh.

Novel ini based on true story, yang membuat saya berpikir: kok ada perempuan- perempuan yang seperti itu. Bab yang paling saya sukai adalah bab “kesetiaan hanya pantas diberikan pada kesetiaan”, jujur, saya merinding membacanya.

Bravo Kang Eep. Novel ini merupakan novel dari penulis Indonesia yang pertama yang saya miliki, saya penyuka novel Western, menjadi warna tersendiri yang sangat berbeda dari semua koleksi novel saya.

~ Susianti

Ikut Terbawa Suasana

Biasanya, kalau ada buku atau novel, saya hanya membaca judulnya saja, atau bab tertentu. Tetapi novel Ditempa Sang Waktu saya baca tiap kata mulai dari cover depan hingga cover belakang. Malah, saya masih mencari-cari apalagi nih yang tertulis di novel ini. Kalau-kalau ada yang terlewatkan.

Ceritanya ringan, mudah dicerna, tapi kena banget di hati. Sampai ikut terbawa suasana yang diceritakan di novel.

~ Dini Agustin

Ditunggu Filmnya

Biasanya saya baca novel setelah nonton filmnya soalnya novel lebih lengkap. Berhubung novelnya lebih dahulu terbit dan filmnya belum ada, jadi saya baca novel Ditempa Sang Waktu lebih dulu.

Novel yang sangat luar biasa, isinya banyak pelajaran hidup berumah tangga. Ditunggu filmnya

~ Yayuk Rahayu

Sedih, Terharu, Trenyuh, dan Greget

Halaman demi halaman novel ini membuat perasaan saya campur aduk. Sedih, terharu, trenyuh, bahkan greget dengan sifat lembeknya Gilang terhadap wanita. Saya menghabiskan berlembar-lembar tisue untuk menghapus air mata. Tetapi, kadangkala saya tertawa sendiri, saat membaca bagian lainnya. Ternyata selain mampu menghanyutkan pembaca dalam kesedihan cerita, Kang Eep juga mampu menghadirkan kekocakan melalui dialog-dialognya.

Alur cerita novel ini sangat sulit ditebak. Banyak cerita-cerita dan adegan yang tak terduga. Novel ini juga tidak monoton jalan ceritanya, membuat saya ngebut membacanya hanya karena saya penasaran dan ingin tahu ending-nya seperti apa.

Saya suka dengan novel ini, karena banyak membahas nilai-nilai penting dan religius dalam berumah tangga. Berbagai petuah bijak yang sudah terlupakan, seperti “bentuk cinta istri terhadap suaminya adalah dengan menghormatinya, sedangkan bentuk cinta suami kepada istrinya dengan menyayangi dan mengayominya. Sungguh adeeem rasanya. Rasa sumringah ketika cerita berakhir bahagia, kok saya jadi ikutan plong setelah membaca berbagai tragedi dalam novel ini. Akhirnyaaa, legaa, dan tak terasa air mata ikut menetes.

Sedikit tambahan buat Kang Eep, bagaimana kalau penjualan novel ini include tissue juga 🙂

Terus berkarya Kang!….Bravo Kang Eep…..!! 🙂

~ Inelya Ine Readyana

Ditempa Sang Waktu Tampil Sederhana tapi Memukau

Sebagai sebuah novel yang dibangun dari keseharian, Ditempa Sang Waktu tampil sederhana tapi memukau. Meski beberapa momen penting luput dari eksplorasi, Kang Eep berhasil membangun suasana hati yang membuat imajinasi pembaca “liar(bebas)” menjiwai tokoh-tokoh dan berfihak ke manapun pembaca merasa terwakili.

Bagaimanapun untuk lebih matang haruslah DITEMPA SANG WAKTU. Nah selamat berproses Kang! Sukses selalu.

~ Anne A. Permatasari

Pesan-pesannya Begitu Menyentuh Hati

Subhanalloh, membaca novel ini membuat saya merenungkan banyak hal, di antaranya tentang pentingnya menghormati suami, menjaga kesetiaan, dan mensyukuri kelebihan dan menutupi kekurangan suami.

Sempet beberapa kali ngumpet karena malu ketahuan suami kalau saya nangis pas baca bagian paling sedihnya, hehehe.

Pesan-pesannya begitu menyentuh hati. M embuat saya menyadari hal yang saya anggap sepele ternyata tidak bisa dianggap sepele,yaitu tentang privasi, tidak akan lagi membuka-buka ponsel suami tanpa izin.

Terima kasih atas segala pelajaran yang berharga dalam novel ini. Semoga segera diangkat menjadi sebuah film. Aamiin.

~ Sheila Munggah Sapitri

Tidak Bisa Berhenti Membacanya

Karena kesibukan, saya baru membaca novel ini beberapa hari setelah kiriman novel tiba. Dari lembar pertama sampai terakhir, saya malah tidak dapat berhenti membacanya. Penasaran dengan kisah Kang Gilang yang mengharu biru. Sampai tak terasa air mata mengalir. Anak-anak saya sampai bertanya, “Mamah, kenapa baca bukunya sambil nangis-nangis gitu?” Maklum, saya memang gampang tersentuh dan berurai air mata kalau membaca kisah-kisah mengharukan.

Pokoknya novel ini hebat banget. Ditunggu novel-novel berikutnya.

~ Rida Nurmeillah

Novel ini Membuatku Hanyut dalam Rasa Haru

Novel ini membuat aku hanyut dalam perasaan terharu, sedih, bangga atas perjuangan seorang laki-laki. Ternyata untuk mendapatkan cinta itu sangatlah butuh pengorbanan lahir dan bathin, tapki akhirnya kebahagiaan yang hakikilah yang pasti didapat. Di novel ini kita dapat memetik pelajaran tentang kesetiaan, cinta yang tulus karena Allah.

Setelah membaca novel ini untuk yang kedua kalinya, saya semakin yakin kalau cinta yang diiringi nafsu akan melahirkan suatu kepedihan yang berujung penderitaan. Lain halnya dengan cinta karena Allah akan berujung kebahagiaan. Dalam novel ini banyak pelajaran yang bisa kita petik untuk kehidupan sehari-hari terutama kehidupan berumah tangga, dimana suami isteri memposisikan diri masing-masing, sesuai dengan hak & kewajibannya.

~ Sri Sukmayani

Best True Story

Biasanya saya harus ada alasan untuk mau membaca sebuah novel. Tapi, mendapati Ditempa Sang Waktu, novel perdana Kang Eep, alasan itu tidak aku temukan. Aku merasa hanya harus membaca. True story-nya kental banget.

~ Fahruddin Ghozy

Cermin Hidup Kita dalam Berkeluarga

Setelah membaca novel ini untuk kedua kalinya, terasa makin nyata banyak pembelajaran yang bisa diambil sebagai cermin hidup kita dalam berkeluarga. Memang cinta itu indah, suci, dan membahagiakan, tetapi dengan nafsu sesaat semuanya akan jadi menyakitkan, bahkan membutakan hati.

Swear, baru kali ini baca novel yang membuat hati saya seperti diaduk-aduk gini. Butuh tenaga batin yang kuat buat menyelesaikan bacanya.

~ Enung S. Rukaesih

Penasaran

Satu-satunya novel yang berhasil saya selesaikan dalam waktu tersingkat adalah novel ini. Alur cerita novelnya tidak bertele-tele dan ringkas. Kisahnya membuat saya sangat penasaran, ada sisi cerita yang mengharukan dan membuat saya ingin segera mengetahui bagaimana ending kisah cintanya Gilang.

Satu hal yang boleh saya katakan dari kisah di novel ini adalah: gila!! Ternyata masih ada ya dijaman edan begini, laki-laki yang sabar dan gak berkutik terhadap perempuan. Duuuuhh Gusti, saya gemes banget sama style-nya Gilang di novel ini.

Satu kalimat untuk novel ini: Novel ini rasanya seperti gado-gado special dan wajib dibaca….!!!

  ~ Aster Roemekso

Novel ini Membuat Saya Lebih Bersyukur

Membaca novel ini saya merasa sedih, saya merasakan apa yang Alia& Puspa rasakan. Saya juga jadi gregetan membaca kisah perjalanan cinta Gilang, kok ada orang seperti itu? Entah Gilang itu telalu sholeh atau terlalu bodoh, mau saja dibodohi dan masuk ke lubang yang sama.

Novel ini memberi pelajaran, seorang istri harus menjaga kehormatannya, menghormati suami, menemani susah dan senang, bersyukur dengan apa yang suami berikan. Semua yang kita lakukan untuk suami adalah ibadah. Saya yakin semua cobaan seberat apapun jika kita bersabar maka Allah memberikan sesuatu yang indah dan tidak disangka-sangka. Novel ini membuat saya lebih bersyukur atas kehidupan keluarga kami, semoga menjadi keluarga yang selalu diberkahi Allah.

Semoga saya bisa menjadi Kanaya, sebagai istri yang sholeha yang bisa memberikan ketenangan bagi suami. Terima kasih Kang Eep, saya terharu, nangis sendirian di kamar. Ditunggu novel berikutnya yang bisa memberikan kebaikan bagi sesama.

~ Megista Mulyawati Sonjaya

Terbaik Menurut Kita, Belum Tentu Terbaik Menurut Allah

Apa yang kita inginkan, baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Begitulah apa yang terjadi pada Gilang, tokoh laki-laki yang ganteng, pintar, dan sabar. Gilang menyangka, Winna adalah terbaik baginya, ternyata menggugat cerai. Begitu juga dengan Santi, yang dianggap calon istri dan ibu yang baik bagi anak-anaknya, ternyata juga tidak. Di saat Gilang menyadari, lalu mengikhlaskan semuanya, Allah memberinya yang terbaik yang tidak disangka-sangka.

Novel ini sarat dengan pembelajaran hidup, yaitu:

– Mintalah petunjuk Allah, mintalah bukan untuk memilikinya, tapi mintalah yang terbaik menurut Allah.
– Istri harus mendukung apapun pekerjaan positif suami, pasangan harus saling mendukung, jangan saling mengekang, supaya bisa sama-sama maju.
– Cemburulah pada tempatnya, menggunakan logika,jangan cemburu buta.

Kita seringkali menyesali nasib kita. Padahal tanpa kita sadari, Allah mengganti kesedihan, mengganti yang hilang, dengan sesuatu yang jauh lebih indah.

~ Liana Noer Yoestiani

Emosi Jadi Ikut Teraduk-aduk

Surprise juga waktu mendengar sahabat saya Eep S. Maqdir menulis novel. Eep yang saya kenal sewaktu jaman kuliah dulu adalah seorang yang kocak, ceria dan easy-going. Sepertinya hidup dan dunia Eep selalu penuh senda gurau dan tawa. Ternyata dibalik semua itu, seorang Eep memiliki kisah hidup yang penuh lika-liku dan cobaan. Yang lebih luar biasa, bukan saja dia berhasil menjalani dan mengatasi semua masalah, tapi bisa mengemasnya dalam sebuah karya tulis yang menarik dan mengharukan.

Walaupun ‘Ditempa Sang Waktu’ merupakan novel fiksi, namun terinspirasi oleh kisah hidup sang penulis. Kisahnya cukup menyentuh, memperlihatkan dengan gamblang perjuangan sang tokoh Gilang dalam mengatasi semua masalahnya sambil tetap mendidik dan membesarkan kedua putrinya, belahan jiwanya. Membalik halaman demi halaman buku itu seperti menyimak setiap rintangan maupun jurang kehidupan yang dijalani setapak demi setapak oleh penulisnya. Emosi kita juga jadi ikut teraduk membacanya. Bravo, Eep!

~ Nuzulia Latifah

Pelajaran & Teguran

Sebenarnya saat saya beli buku ini, kebetulan saya diterima kerja. Jadi saya baca sedikit-sedikit, tapi karena penasaran dengan jalan ceritanya, saya pun segera menyelesaikannya.

Ada beberapa yang terjadi di rumah tangga saya hampir sama ceritanya dengan novel Ditempa Sang Waktu. Salah satunya suami yang kerjanya seperti Gilang (tokoh utama), hanya saja berbeda beda bidangnya.

Dari novel ini saya belajar, betul sekali suami itu butuh dihargai dan wanita butuh diperhatikan. Sekarang saya selalu berusaha menghargai suami apapun yg terjadi, lebih tenang menghadapi suami dan anak-anak, sambil tetap “cari perhatian” dari suami 🙂

Novel ini bagi saya adalah pelajaran dan teguran, agar kami bisa menjalankan rumah tangga lebih baik lagi.

~ Selly Saadah

Menggiring Pembaca Seolah-olah Menjadi Tokoh Utama

Saya hampir tak dapat menyelesaikan membaca novel ini. Berkali-kali harus menghapus air mata yang tanpa disadari. Novel Kang Eep ini membuat saya tergiring seolah menjadi pemeran utamanya. Alur cerita sangat menyentuh, dan terkadang timbul perasaan benci kepada tokoh jahat di dalam novel ini.

Kesetiaan adalah harga mati dalam sebuah hubungan keluarga, tapi pengkhianatan tidak harus selalu dibalas dengan pengkhianatan. Jadikanlah hal itu sebagai pembelajaran yang berharga, supaya dimasa datang menjadi lebih baik lagi.

Alhamdulillah, Kang Eep telah mencairkan dendam saya melalui novel ini, semoga selanjutnya saya selalu dan tetap menjadi istri yang setia. Aamiin. Ditunggu novel berikutnya Kang!

~ Elis Halimah

Merasa menjadi Pemeran Tokoh di dalam Novel

Bila selama ini Kang Eep yang dikenal sering menulis yang berhubungan dengan hiburan, pemerintahan, politik, agama, sosial atau tulisan-tulisan yang lainnya, dalam novel ini ia tampil sangatlah berbeda. Pembaca dibawa ke dalam satu situasi rumah tangga yang sangat rumit dengan segala permasalahannya, tetapi novel ini happy ending.

Kang Eep bukan saja piawai mengupas teori dalam berumah tangga, tetapi juga lincah mengolah kalimat-kalimat, sehingga pembaca seolah dibawa ke dalam situasi nyata. Malah terkadang pembaca merasa menjadi pemeran tokoh di dalam novel tersebut.

Novel ini selayaknya dibaca oleh para dewasa, terutama yang sudah berumah tangga agar menjadikan kita bisa memaknai hal ikhwal berumah tangga.

Setelah membaca novel ini kita akan lebih memahami makna hidup dan kehidupan dalam berumah tangga. Meskipun tentu saja tak ada pernikahan yang sempurna, karena “kesempurnaan itu kembali lagi kepada kita yang menjalani nya.

~ Eti Rosmiati

Memunculkan Harapan Baru Akan Cinta dan Kesetiaan

Setelah sekian lama menanti akhirnya saya bisa membaca novel ini “Ditempa Sang Waktu” sebuah novel karya Kang Eep S. Maqdir. Novel ini bercerita tentang liku-liku rumah tangga yang cukup membuat mata saya berair melihat perjuangan seorang suami/lelaki yang begitu sabar menerima semua pengkhianatan wanita-wanita yang dia cintai. Dalam novel ini banyak hal positif yang saya ambil tentang arti cinta, kesetiaan, kesabaran, keikhlasan, kerja keras, dan pengorbanan.

Novel ini membuka pikiran saya yang pernah mngalami kegagalan karena kebohongan dan pengkhianatan seorang lelaki, bahwa ternyata masih ada lelaki yang setia di dunia ini yang sabar dan penuh kasih sayang serta tanggung jawab terahadap keluarganya. Terima kasih, Kang Eep muncul harapan baru dalam hati bahwa suatu saat nanti saya pun akan bisa bahagia dengan seseorang yang benar-benar sayang, cinta, dan setia, yang bisa mendampingi hidup saya, mampu membimbing saya, dan menjadi suami/imam yang baik.

Sukses selalu buat kang Eep

~Ida Azzahra

Saingan Novel “Catatan Hati Seorang Istri”

Dua hari membacanya, saya tercerahkan. Bagaimana seharusnya kita sebagai perempuan bersikap kepada pasangan. Banyak perempuan yang hanya pandai menuntut, mengatur laki-laki, egois dan mengekang laki-laki hanya karena takut kehilangan pasangan.

Tanpa disadari, saya menangis, seolah-olah menyaksikan sendiri bagaimana repot dan lelahnya tokoh Gilang menghadapi perempuan yang cemburuan, yang dikit-dikit ngambek, dikit-dikit ngajak putus, padahal masalahnya sangat sepele.

Novel ini membuka wawasan saya tentang sudut pandang laki-laki terhadap pasangannya. Kalau boleh saya katakan, novel ini adalah saingan Catatan Hati Seorang Istri-nya Asma Nadia, namun ini adalah versi laki-laki.

Pelajaran yang paling berharga adalah: satu-satunya cemburu yang pantas dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya, adalah jika suaminya tidak cinta kepada Allah dan RasulNya. Istri jangan menambah berat tugas suami sebagai imam di rumah tangga.

Terima kasih Kang Eep. Semoga jadi berkah buat semuanya.

~ Aisyah Ridho Wahyu Dianti

Senang, Sedih, Kesal

Cinta itu indah, cinta itu suci, cinta itu membahagiakan. Tetapi nafsu mengubah cinta menjadi menyakitkan, membutakan hati, hilang akal, hilang nalar. Novelnya Pak Eep “bikin” hati dan kepala jadi nano-nano, senang ada, sedih ada, kesel, sampai mau getok kepala tokohnya juga ada. Pokoknya komplit deh. Tapi satu yang pasti, semuanya akan indah pada saatnya.

~ Fatriha Zuhriani

Jadi Lebih Memahami Makna Hidup Berumah Tangga

Novel ini bagus banget, patut diacungkan dua jempol. Kalau dijadikan sinetron akan menyaingi sinetron Catatan Hati Seorang Istri. Membaca novel ini membuat saya terbawa arus suasana ceritanya. Nangis, kesel, sedih, melihat kehidupan Gilang menghadapi perempuan yang cemburuan, sedikit-sedikit ngambek, sedikit-sedikit ngajak putus, padahal masalahnya sepele. Gilang sosok laki-laki yang bisa mengubur harga dirinya demi cinta kasih sayang terhadap kedua buah hatinya, tetapi sangat disayangkan sangat lembek juga menghadapi perempuan.

Novel ini sangat mendidik, menginspirasi, dan membuat saya lebih bisa memahami makna hidup dalam rumah tangga. Kesetiaan, kejujuran, selalu mendukung, saling menerima dan menutupi kekurangan masing-masing, serta saling memberikan kepercayaan, itu syarat mutlak yang harus dipegang teguh oleh pasangan suami istri.

Membaca novel ini, selain menghabiskan 3,5 jam waktu saya, juga menghabiskan 1 box tisue. Anak saya keheranan, kok aneh ya Bunda baca novel sampai nangis terisak-isak dan mata Bunda sampai bengkak. 🙂

Bravo Kang Eep, saya tunggu novel selanjutnya, ditunggu novel yang pemeran utamanya perempuan ya.

~ Lelly Zaha Agustian

Sabar itu Tidak Berbatas

Membaca novel ini rasanya ingin cepet tuntas dan tau akhir kisahnya. Alur ceritanya asik, sederhana dengan bahasa yang apa adanya. Ada rasa haru, senang, gregetan pada tokoh di dalamnya.

Ada banyak kisah yang sarat hikmah dan nasehat hidup dalam berumah tangga sesuai ajaran dan norma-norma agama.

Melalui novel ini sy jadi lebih sadar dan yakin bahwa dalam perjalanan hidup, kita akan selalu “Ditempa Sang Waktu” yang membuat kita menjadi lebih baik dari waktu ke waktu.

Bahwa sabar itu tidak berbatas dan akan berbuah manis pada akhirnya apapun bentuknya, karena janji Allah itu pasti benar.

Hatur nuhun Kang Eep untuk karyanya yang menginspirasi, ditunggu karya-karya selanjutnya ya.

~ Nurhasanah Subari

Amat Layak Dijadikan Sinetron

Novel karya Kang Eep ini amat layak disinetronkan, seperti novel Catatan Hati Seorang Istri karya Asma Nadia, yang sinetron membuat ibu-ibu manteng nonton tiap sehabis teraweh

Biar istri-istri tahu bahwa bukan hanya perempuan yang mampu setia, dan bukan hanya perempuan yang jadi korban pengkhianatan cinta.

Biar para istri bisa memetik pelajaran dari yang disuguhkan penulis novel Ditempa Sang Waktu ini.

Saran untuk para lelaki sebagai imam dalam keluarga, novel ini juga layak untuk dijadikan motivasi bagi anda semua.

Selamat & sukses Kang Eep, ditunggu karya berikutnya.

~ Noey Pamungkas Harun

Terharu

Novel ini adalah novel kedua yang membuatku menangis sesenggukan, setelah novel Ayat-Ayat Cinta. Terharu sekali dengan cerita tokoh-tokohnya.

~ Annie Winarni

Novel Ini Membuat Penasaran

Saya mencari novel ini ke toko buku, walaupun saya sudah pre-order novel ini kepada penulisnya, alasannya ingin segera membacanya, tak sabar kalau harus menunggu kiriman dari penulis.

Saya membaca novel ini sampai harus begadang, tak dapat berhenti membaca, adegan demi adegan seolah terpampang di depan mata, larut dalam kisahnya dan penasaran untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Ditunggu novel jilid duanya.

~ Marcellina Sutisna

Pelajaran Hidup soal Kesetiaan

Setiap insan berbeda ujian, setiap kepala berbeda pikiran.
Ketika memasuki satu aturan rumah tangga, beragam perbedaan menghiasi, beragam kekuatan harus tumbuh. Cintapun bisa berkembang dan padam, itulah cinta manusia.

Tidak ada kesetiaan yang dijalani tanpa kedekatan pada-Nya Tanpa mendekatkan diri pada Yang Maha Mencinta, akan rapuh semua hal yang ada dihadapan, terkalahkan oleh semua keserakahan dan hajat manusia dengan dunia.

Buku ini sangatlah bermanfaat untuk dijadikan pelajaran kehidupan pada kesetiaan apapun, terutama kesetiaan kita sebagai
hamba cipataanNYA terhadap segala aturan-aturanNYA.

~ Eva Nur Nurwidiawati

Kisah Pengorbanan Seorang Laki-Laki

Membaca halaman demi halaman novel ini, saya membayangkan sebuah pengorbanan seorang laki-laki, yang mau mengubur dalam-dalam harga dirinya, demi kecintaannya kepada anak-anak yang sangat dicintainya. Sungguh sebuah teladan yang luar biasa, dimana ego seorang laki-laki yang pada umumnya ingin selalu mendang sendiri, bisa terhapus oleh adanya buah hati yang menjadi bagian hidupnya.

Novel ini adalah bacaan yang sangat mendiidik, baik untuk laki-laki (suami), dan terutama pelajaran berharga bagi perempuan (istri), bahwa suami yang baik itu sangat sulit untuk didapatkan. Adalah sebuah kebodohan luar biasa jika istri menyia-nyiakan suami yang soleh, mencintai istri dan anak-anaknya

~ Koko Anggapradja

Novel yang Sarat Pelajaran dan Hikmah

Pada awalnya beli novel Ditempa Sang Waktu ini untuk istri saya yang hobi baca novel. Setelah selesai membaca, ada yang berubah dari istri saya. Dia jadi lebih mengerti tentang suami yang berprofesi berbeda dengannya. Banyak hal yang berubah membaik dari istri saya sejak membacanya. Diapun lebih mengerti bagaimana seharusnya seorang istri bersikap.

Penasaran dengan perubahan istri saya, akhirnya saya pun membacanya. Kaget sekaligus penasaran, akhirnya saya menyelesaikannya karena banyak pelajaran dari setiap ceritanya. Termasuk cara menyikapi seorang istri dengan tepat.

Setelah membaca novel ini, sekarang kami berdua saling mengerti bagaimana seharusnya cinta ditumbuhkan dalam impian yang sama yakni surga Allah SWT. Insya Allah.

Ditunggu novel lainnya, sukses selalu buat kang Eep.

~ Andri Ridwan Pratama

Sabar Itu Tidak Ada Ruginya

Dua pelajaran yang saya dapatkan dari novel Ditempa Sang Waktu karya Kang Eep ini:

– Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, seperti terlalu cinta, terlalu sayang, terlalu percaya, juga tidak baik. Akan membuat mata hati tertutup dan sulit menerima kenyataan yang ada.
– Kesabaran, akan berbuah manis, sabar itu tidak ada ruginya

~ Heni Kencana

Unpredictable

Novel ini memiliki alur cerita yang susah ditebak. Awalnya, saya merasa larut dalam alur cerita dan kisah keluarga Kang Gilang. Kemudian, saya mencoba mengira kisah berikutnya seperti apa, misalnya Kang Gilang akan langsung menikah lagi setelah perpisahannya, seperti layaknya sinetron-sinetron.

Tetapi, saya salah terus menerus salah menduga. Novel yang sangat “unpredictable”. Saya kira, Gilang akan menikahi Revina, ternyata tidak, kemudian berlanjut dengan Santi, ternyata juga tidak. Sangat banyak alur cerita yang sungguh di luar dugaan, dan terkadang merasa heran, apakah benar ini terjadi, karena novel ini disebutkan diangkat dari kisah nyata. Ada bagian-bagian dari kisah novel ini yang hampir-hampir membuat saya (sebagai laki-laki) meneteskan air mata. Hehehe.

Banyak nilai-nilai moral dan kehidupan berumah tangga yang secara langsung atau tidak langsung bisa mengedukasi dan menasihati pembaca tanpa terkesan menggurui. Novel ini sedikit banyak menjadi cerminan hidup kita untuk bisa menjaga arti kesetiaan dalam berumah tangga.

Saya pribadi sangat terhibur & cukup membuat perjalanan dari Dubai ke Kuala Lumpur terasa singkat. This novel made my day. Very recommended.

~ Hadi Muhari & Anita Puspita Dewi

Sangat Menginspirasi!

Kisah klasik masa depan. Kadang memang kita harus bertemu dengan orang yg salah dulu sebelum ditemukan dengan orang yang tepat. Semua sudah diatur serapi mungkin olehNya. Allah adalah sutradara kehidupan yang TERBAIK. Kita hanyalah pelaku dalam alur cerita yang ditulis.

Baca novel ini seolah-olah terasa ikut masuk ke dalam alur kisahnya. Hampir mirip meskipun tidak sama persis. Luar biasa kisah perjalanan hidup Gilang untuk menemukan cinta dan kebahagiaan hidupnya. Dramatis diawal, berakhir manis diakhir.

Keindahan akan datang disaat yang tepat, dengan orang yang tepat, dan di waktu yang tepat. Pasti akan hadir di kehidupan kita, maka bersabarlah dalam penantian dengan pemantasan diri yang sebaik-baiknya.

Tentang jodoh, saya teringat kata-kata Mario Teguh:
“Jodoh itu banyak pilihannya, pilih satu yang TERBAIK, jika sudah diberi maka setialah”.

Bab yang paling saya suka di novel ini adalah “Kesetiaan hanya pantas diberikan kepada kesetiaan”. Laki-laki baik-baik, hanya untuk wanita baik-baik. Wanita baik-baik, hanya untuk laki-laki baik-baik.

Keren euy novelnya Kang Eep S. Maqdir, sangat menginspirasi.

~ Shofie Damayanti

Terharu, Marah & Kesal

Saya termasuk orang yang keras, tidak terlalu sering mengeluarkan air mata. Tetapi membaca beberapa bagian dari novel Ditempa Sang Waktu, membuat mata saya berkaca-kaca. Ada perasaan sedih dan terharu.

Novel ini alur kisahnya mengalir begitu natural dan terasa nyata. Saya beberapa kali menggerutu, marah dan kesal atas sikap tokoh Gilang yang tidak tegas sebagai seorang suami. Si Bungsu, anak saya sempat kaget mendengar ibunya marah-marah saat membaca novel ini. Saya kesal, seolah-olah tokoh Gilang itu benar-benar nyata dan ada.

Hikmah dari membaca novel ini adalah: hitam dan putih, benar dan salah bisa terjadi secara bersamaan. Orang yang begitu rajin beribadah, pada saat yang bersamaan bisa juga terjebak dalam dosa. Tetapi memang begitulah kehidupan.

~ Yeyet Mulya

Novel Non Religi yang Religius

Sebenarnya saya termasuk orang yang anti membaca novel. Tapi ketika Kang Eep menulis novel, tidak tahu mengapa saya jadi merasa penasaran ingin mengetahui isi cerita novel tersebut.

Novel ini menggugah kita untuk selalu sabar dalam menghadapi segala masalah. Karena Allah akan mempersiapkan hal yang lebih besar lagi bagi kita atas imbalan kesabaran dan ketegaran kita.

Novel ini menurut saya bukan novel religi, karena dalam ceritanya banyak menyodorkan cerita-cerita non religi (banyak unsur dewasanya). Namun kalau saya perhatikan justru disitulah Kang Eep ingin menunjukkan, kalau kita ini hanyalah manusia yang dengan mudah dapat tergelincir dalam perbuatan dosa.

Cerita-cerita yang ada di novel ini ternyata di bagian akhir novel menjadi pembahasan yang sangat menarik, yang menjadi satu benang merah yang bernilai religius.

Novel ini banyak memberikan pencerahan, tidak hanya dari nilai-nilai religi, juga dari nilai-nilai psikologi seseorang. Sehingga bisa menjadi bekal buat pembaca untuk tidak melalukan hal yang sama dengan apa yang terjadi dalam novel tersebut.

Saya berharap, novel ini dilirik oleh produser film dan dibuat menjadi sebuah film.

Salute untuk Kang Eep.

~ Indra A. Malik

Menguras Emosi

Cukup menguras emosi dan meneteskan air mata kalau sudah menyangkut urusan anak. Turut merasakan seandainya saya ada di posisi seperti mereka

~ Enung Yustini

Terbawa Hanyut dengan Naturalnya Kisah

Untuk mendapatkan indah dan nikmatnya sebuah cinta, ternyata membutuhkan proses melalui waktu, hingga pada akhirnya hanya cinta karena Allah lah yang membawa kebahagiaan yang hakiki. Membaca Novel Ditempa Sang Waktu ini kita akan terbawa hanyut dengan naturalnya sebuah kisah bebas lepas, dengan romantisnya cinta yang membawa si pembacanya larut dalam kisah itu.

Wilujeng Kang Eep, diantos novel salajengna.

~ Lina Herliana

Sejenak Terhenyak dan Berurai Air Mata

Tidak ada pernikahan yang sempurna, semua pernikahan pernah mendapat ujian. Sejenak terhenyak dan berurai air mata membaca novel ‘Ditempa Sang Waktu’ karya kang Eep S. Maqdir. Dialog-dialog yang disampaikan dalam novel begitu familiar untuk saya. Tidak semua orang tahu dan tidak perlu memberitahu semua orang tentang kisah pernikahan yang saya alami.

Novel ini membuat saya terharu, menghibur dan yang lebih penting memberi wejangan yang sangat berharga tentang hikmah pernikahan supaya memiliki pernikahan yang penuh barokah. Terima kasih and keep writing, Kang Eep…

~ Yanti Yulianti

Novel yang Membuat Penasaran Pembaca

Sejak awal saya ingin sekali membaca novel ini, novel membuatku sangat penasaran, apalagi dari covernya seorang laki-laki dengan raut wajah yang misterius, saya yakin bahwa sang tokoh ini tidak bahagia dan mempunyai banyak permasalahan. Tidak ada raut kebahagiaan didalamnya.

Saya suka novel ini karena banyak nilai-nilai hidup yang disampaikan kepada pembaca, bahwa semua permasalahan pasti ada jalannya. Banyak norma-norma pernikahan yang disampaikan di novel ini, hal-hal sepele yang sering terlupakan, soal cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

Novel ini berakhir dengan happy ending. Inilah yang saya tunggu-tunggu setelah rasa kepenasaran saya yang terus memuncak. Gilang dan anak-anaknya akhirnya menemukan kebahagiaan di kehidupan rumah tangga dengan istri barunya, yang mencintai dan menghormati Gilang, serta menyayangi kedua anak Gilang.

Terus berkarya, Kang Eep, ditunggu karya-karya berikutnya.

~ Thia Lutfi

Filosofi Kehidupan

Novel yang sangat bagus, recommended, jalan ceritanya seperti nyata, dengan gambaran tempat dan lain-lain yang memang nyata. Semakin diresapi, filosofi kehidupannya menggambarkan mana yang bisa kita ambil, dan kita tinggalkan.

Apa yang kita inginkan, belum tentu terbaik di mata Allah. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari novel ini, seperti bagaimana seni menjalani kehidupan. Life is art. Ditunggu novel berikutnya, Kang Eep.

~ Emma R. Suwarna

Really Recomended

“As a woman, I can feel love from man’s point of view through this novel. Straight-forward, simple, but with deep tone of words make me feel that I am a part of the story 🙂
For everyone who wants to build a serious relationship, this novel is really recommended.”

Thanks for such a beautiful novel 🙂

~ Riris Yunita Simanjuntak

Ikut Terbawa Sedih dan Kesal

Membaca novel Ditempa Sang Waktu, saya sebagai pembaca ikut terbawa sedih dan kesal juga. Kok ada yah laki-laki yang bernama Gilang, bisa begitu sabarnya dibohongi dan diselingkuhi oleh perempuan?

Ya begitulah, di jaman sekarang, bukan hanya laki-laki yang bisa berselingkuh, tetapi perempuan yang berstatus istri pun banyak yang selingkuh. Naudzubillah himindzalik.

Semoga novel karya Kang Eep ini bisa jadi pembelajaran, khususnya saya pribadi, dan buat semua perempuan, untuk bisa menjaga keutuhan rumah tangganya, bisa setia kepada pasangannya, bukan karena harta semata, tetapi karena ketulusan cinta yang suci.

Aamiin Yaa Robbal Aalamiin

~ Ai Rida Rusli

Read this, then You will Learn Many Things

Untuk saya, pembatas buku yang diberikan jadi terasa kurang manfaatnya. Saya berniat membaca novel ini sedikit demi sedikit. Namun yang terjadi adalah, saya tidak dapat berhenti membacanya hingga halaman terakhir. Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari novel ini.

~ Ivan Lahardika
0

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code