X
Uncategorized

Meneladani Visi dan Misi Keluarga Nabi Ibrahim

September 19, 2016 0

Bagi keluarga kami, salah satu yang membuat betah tinggal di Bandung adalah fasilitas belajar ilmu parenting yang variatif dan ekonomis. Di sinilah kami dipertemukan dengan komunitas belajar ilmu pendidikan anak, ragam acara peningkatan kualitas diri dan aneka playdate anak yang menyenangkan dan ramah kantong. Bahkan banyak kegiatan yang bisa diikuti tanpa dipungut biaya, cukup berbekal semangat belajar dan kemauan memperbaiki diri.

Nah, di weekend menjelang Idul Adha kemarin, kami berkesempatan menimba ilmu pendidikan berbasis keluarga dari Ustadz Adriano Rusfi di acara Kopdar Bulanan HebAT (Home Education based on Akhlaq and Talents) Bandung. HebAT merupakan sebuah komunitas belajar berbasis grup WhatsApp yang mendampingi para orangtua menjalankan FbE (Fitrah based Education) dan CbE (Community based Education) dalam pendidikan anak-anaknya.

Apa yang dimaksud dengan VISI?

VISI itu apa?

Materi dibuka dengan pertanyaan singkat diatas. Beragam versi jawaban pun muncul. Lalu beliaupun mengajak kami untuk menyamakan persepsi mengenai definisi visi. Penyamaan persepsi sebagai langkah awal ini penting, karena beliau banyak menemukan berbagai persepsi dan cara masing-masing orang menentukan visi misi dalam kehidupan. Ada yang menjalankan misi dulu, baru merumuskan visi, maupun cara lainnya. Bagi Ustadz Aad, lebih tepat jika mencanangkan visi terlebih dahulu baru menentukan misi.

Visi merupakan cara pandang, perspektif yang khas dan unik tentang jati diri, fungsi, peran dan nilai sebuah entitas atau kesatuan. Secara sederhana, visi berkaitan dengan penglihatan. Unsur purpose (tujuan) dan value (nilai) terlibat di dalamnya.

Bagaimana menentukan visi keluarga?

Langkah yang paling awal adalah dengan berkomunikasi. Terutama antara suami istri. Dengan berkomunikasi itulah, kita bisa merumuskan bersama, visi apa yang akan keluarga emban bersama. Dalam merumuskannya, setidaknya ada empat aspek yang dapat dijadikan bahan pertimbangan, yaitu:

  1. Analisis historis. Semisal, bagaimana latar belakang pengasuhan yang dialami suami maupun istri. Jika pola pengasuhannya baik, bisa diadaptasi. Sedangkan yang kurang tepat bisa diperbaiki.
  2. Given factors (faktor terberi). Yang melekat pada diri. Semisal suku yang mempengaruhi watak dan laku.
  3. Realitas atau kondisi saat ini. Bagaimana kondisi keluarga saat ini, apa kelebihan dan kekurangannya, adakah benang merah yang dapat diambil untuk mendapatkan visi bersama.
  4. Impian. Mau dibawa kemana bahtera keluarga ini. Apa tujuan besar yang ingin dicapai bersama. Impian masing-masing anggota keluarga dikolaborasikan menjadi impian bersama. Apakah yang diinginkan oleh keluarga. Oleh masyarakat luas ingin dikenal sebagai keluarga yang bagaimana.

Lebih lanjut, beliau memberikan beberapa contoh supaya pemahaman mengenai visi ini jelas hingga ranah teknis.

Beliau mengambil contoh, visi Islam tentang manusia adalah manusia sebagai khalifah fil Ardh. Yang mana mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin. Beberapa contoh visi yang pernah beliau gagas untuk sekolah ataupun institusi, misalnya Rumah Asuh Karakter Bangsa, Kantor Pembelajaran di Taman Kehidupan dan sebagainya. Bahkan beliaupun memberikan contoh yang sangat sederhana namun cukup mengena dengan memberikan ilustrasi jika visinya adalah monyet, maka misi yang diemban adalah memanjat.

Di ranah keluarga, Ustadz Aad memberikan contoh visi keluarga beliau adalah keluarga solutif. Visi ini tercetus setelah beliau mengumpulkan saudara-saudara beliau dan berpikir bersama, visi apa yang sekiranya “keluarga saya banget”. Berangkat dari masa lalu dengan kondisi yang cukup sulitlah, tercetus ide menjalankan visi sebagai keluarga yang solutif, keluarga yang mengambil peran sentral dalam penyelesaian masalah yang terjadi di masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan MISI?

Setelah visi tercetus, langkah selanjutnya adalah merumuskan misi keluarga. Misi adalah sebuah tujuan, target dan sasaran yang ingin dituju dan dihasilkan sesuai dengan visi dari entitas tersebut. Dalam sebuah misi ada unsur tahapan dan capaian. Alangkah baiknya jika misi berupa poin-poin yang menjabarkan tahapan sekaligus tujuan yang ingin dicapai.

Untuk lebih memberikan gambaran yang konkrit, lagi-lagi beliau memberikan contoh misi yang sudah tercetus dan dijalankan. Kali ini beliau mengutip misi pembinaan kader masjid Salman ITB.

Misi Pembinaan Kader Masjid Salman ITB:

  1. Student Step
  2. Human Step
  3. Activist Step
  4. Intellectual Step
  5. Ulil Albab Step

Lima poin di atas menggambarkan misi yang bertahap sekaligus bertujuan, namun dengan kalimat yang singkat.

Visi Misi Keluarga, Haruskah?

Kita tentu tidak asing membaca visi misi sebuah perusahaan atau lembaga. Tapi, bagaimana dengan visi misi keluarga? Yap, pasti masih asing di telinga ya. Beragam pertanyaanpun muncul, salah satunya, “Untuk apa membuat visi misi keluarga?”

Jika kita membangun rumah tangga dengan tujuan yang jelas, membina keluarga dengan memasang titik pencapaian tinggi hingga akhirat, meyakini bahwa keluarga adalah struktur kepemimpinan terkecil, maka visi misi merupakan fondasi sebelum bergerak bersama. Beberapa poin mengenai keluarga di bawah ini menguatkan urgensi perumusan visi misi keluarga:

  1. Keluarga adalah entitas
  2. Keluarga adalah pondasi sosial dan penting
  3. Keluarga adalah tiang negara
  4. Setiap keluarga itu unik
  5. Keluarga memiliki mimpi
  6. Keluarga harus membangun masa depan
  7. Keluarga menjalankan fungsi pendidikan

Pada poin ini Ustadz Aad banyak menceritakan mengenai respon keluarga saat beliau ingin fokus berkarya di dunia pendidikan keluarga. Tak sedikit yang meremehkan, tapi beliau berpedoman bahwa dari keluargalah modal awal membangun dunia. Beliau pun berbagi cerita bahwa beliau dan keluarga sedang menjalankan program dengan istilah “menghancurkan berhala efektivitas, waktu dan skala”.

Maka, penting untuk segera melakukan identifikasi makna bahagia versi suami dan istri serta merumuskan definisi bahagia versi keluarga.

Bagaimana Visi Misi Keluarga Nabi Ibrahim?

Jika ditelaah, visi keluarga Nabi Ibrahim AS adalah keluarga tauhid pemakmur bumi. Dengan karakteristik sebagai berikut:

  1. Hanif atau lurus. Seberat apapun perintah yang diterima, diupayakan seoptimal mungkin untuk dilaksanakan demi berpegang pada diin Allah. Seperti tertulis di surat Ar Ruum (30) ayat 30-31: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertobat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.”
  2. Pioneer. Menjadi pioneer sosok ayah yang tega meninggalkan anak istrinya di padang tandus. Pioneer sosok ayah yang tega (akan) menyembelih anaknya. Semata-mata untuk menegakkan perintah Allah.
  3. Berdaya juang. Ditunjukkan oleh Siti Hajar yang bolak balik melakukan sa’i dari Shofa ke Marwah dengan medan yang fluktuatif.
  4. Berkorban. Nabi Ibrahim dan keluarganya berupaya untuk menyingkirkan kepentingan pribadi demi ketaatan pada Allah.
  5. Optimis. Bentuk nyata sebuah kesabaran seorang hamba. Siti Hajar yang sudah berjalan ke bukit Shofa maupun Marwah, tetap melakukannya sebagai tujuh kali karena yakin akan pertolongan Allah jika dia bersabar dan terus berusaha.

Dari visi diatas, diturunkan menjadi misi sebagai berikut:

  1. Membacakan ayat-ayat Allah kepada manusia
  2. Mensucikan manusia
  3. Mengajarkan manusia kepada Al Qur’an dan Hikmah

Menentukan visi misi keluarga, tentu bukanlah semudah menyeduh teh celup. Merupakan sebuah proses panjang, yang bisa jadi memakan waktu yang lama dan tidak langsung sekali jadi. Senantiasa mendekatkan diri pada Allah agar selalu dikoreksi olehNya, menghubungkan rumusan visi misi keluarga dengan tujuan penciptaan manusia. Hanya intuisi dari internal anggota keluarga saja yang bisa merasakan apakah visi misi keluarga benar-benar “keluarga saya banget” atau tidak. Jika keyakinan semakin kuat, maka langkah pun semakin mantap dan kebermanfaatannya pun dapat dirasakan oleh pihak lain.

Mendapat ilmu mengenai visi misi keluarga ini, membuat saya teringat materi family branding yang dipaparkan saat mengikuti forum Mini Perak bulan Mei lalu. Detil bahasannya bisa disimak disini. Saya pun menanyakan hal ini pada Ustadz Aad di sesi tanya jawab. Beliau mengiyakan. Memang sangat berkaitan, dan family branding ini merupakan sebuah bentuk kompleks yang sudah mencakup visi misi keluarga di dalamnya.

Sumber: Griya Riset

0

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code