X
Indonesia Keluar Saja dari WTO?
Indonesia Raya, Pertanian, Sosial & Politik

Indonesia Keluar Saja dari WTO?

December 26, 2016 0

Kalahnya Indonesia dalam sidang perdagangan di WTO yang memutuskan Indonesia harus mencabut restriksi impor pangan dari luar negeri. Implikasi dari keputusan WTO ini jelas membahayakan petani dan peternak Indonesia, karena produk pangan dari luar negeri akan mengalir deras.

Saya sendiri berpendapat, karena Indonesia menjadi anggota WTO, maka mau tidak mau harus mematuhi hasil sidang ini, jika sudah berupa keputusan yang mengikat. Sementara dikabarkan, Indonesia sendiri akan mengajukan banding, tetapi saya pesimis, karena yang menjadi negosiator Indonesia di WTO bukanlah dari kalangan yang mengerti pertanian dan peternakan. Tetapi dari kalangan pedagang. Mereka ya cuma jualan, terserah mau jualan dari dalam negeri atau dari luar negeri.

Kang Rauf Purnama, ahli di bidang petroindustri dari ITB, mengatakan “Yang datang pejabat dan importir, bukan praktisi pertanian. Sesuai sabda Rasul, jika pekerjaan dipegang bukan ahlinya, maka tunggu saja kehancurannya. Kita lihat hebatnya Jepang, harga beras di Jepang dari tahun 1970-an hingga sekarang tetap 500 yen per kg, atau USD 500/ton. Waktu diskusi di Jepang, harga beras di pasar internasional adalah USD 300/ton. Apa Jepang impor beras? Tidak! Haram hukumnya pemerintah Jepang impor meskipun beras impor lebih murah. Lalu apakah negara lain protes? Tidak juga. Ini lah kepiawaian pemerintah Jepang dalam negosiasi. Lucunya, di Indonesia kita makan di rumah makan Jepang, makan beras Jepang yang mahal, hebat, beras mahal di dalam negerinya, bisa dieskpor Jepang ke negara lain.”

Kang Rofiek Natahadibrata praktisi bidang ekspor impor mengatakan: “Dalam kondisi perdagangan bebas seperti sekarang ini, perdagangan menjadi borderless, tidak boleh lagi ada hambatan apapun termasuk tarif. Yang terjadi adalah B to B, selagi harga cocok, jadilah barang diimpor. Apalagi kalau kita turut meratifikasi TFA (Trade Facilty Agreement), dimana semua aturan, ongkos, tarif, harus standar dan transparant. Metode trading berubah dari “trade follow the ship” jadi ke “ship follow the trade”. Maka dalam kondisi begini yang akan jadi juara adalah produk yang murah dan efisien.”

“Kalau kita baca jurnal The Economist tentang Indonesia, dengan kondisi cashflow yang morat-marit seperti ini, juga ketidakpastian tentang ekonomi global, yang harus dilakukan Indonesia adalah inward looking. Artinya, bikin dan jual lah di dalam negeri. Ya kalau mau, kita keluar saja dari WTO, belajar prihatin dan berdikari, Insya Allah ga akan kelaparan,” lanjut Kang Rofiek.

Seandainya Indonesia keluar dari WTO, apakah Indonesia kiamat? Ya, bisa jadi bersiap-siap saja menghadapi embargo dari negara-negara anggota WTO. Tetapi sebenarnya dengan jumlah penduduk yang sangat besar, serta kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia, kita tidak perlu takut. Indonesia bahkan dibutuhkan negara lain, karena pasar yang luas, hampir 300 juta penduduk Indonesia.

Lagi-lagi, jika kita hidup prihatin, dalam serba keterbatasan, kita tahu, rakyat Indonesia itu sangat kreatif dan bisa survive. Contohnya, mobil yang sudah berusia puluhan tahun pun masih bisa melaju di jalanan, padahal spare partnya sudah tidak ada lagi. Contoh lainnya, dalam krisis seperti ini pun akibat salah urus pemerintah, rakyat Indonesia masih tetap bisa survive.

Selama kita terikat dengan WTO, pemerintah tidak bisa berbuat banyak jika sudah menjadi keputusan sidang. Maka yang bisa membela negara kita adalah rakyatnya sendiri. Biarkan, produk pangan luar negeri masuk ke Indonesia, tapi kalau TIDAK ADA YANG MEMBELI, maka mereka pun tidak bisa berbuat banyak.

Jika produk pangan impor tersebut ternyata lebih murah, bagaimana produk lokal bisa bersaing? Lagi-lagi, disinilah rakyat yang harus berjuang. Ciptakan terus produk yang efisien, dan tetaplah beli produk lokal Indonesia meskipun lebih mahal. Tidak mengapa, ini adalah bagian dari kita membela bangsa. Jika dahulu pejuang mencucurkan darah membela bangsa ini, kenapa kita tidak mau membeli produk bangsa kita sendiri, meskipun produk bangsa lain lebih murah.

Dari setiap produk pangan impor yang kita beli, keuntungan yang diperoleh, bisa jadi dipergunakan oleh importir untuk membeli mobil baru, menambah rumah baru, hidup bermewah-mewah. Tetapi dari setiap produk pangan lokal hasil petani yang kita beli, dipergunakan petani untuk sekedar bisa bertahan hidup, sekedar anaknya bisa sekolah, ditengah himpitan ekonomi yang semakin sulit.

Kalau bukan kita yang membela bangsa kita sendiri? Lalu siapa?

Salam, Kang Eep
Swadaya Petani Indonesia.

Photo: http://www.citizen.org/

1

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code