X
Fenomena Buka Puasa Bersama
Keluarga, Sosial & Politik, Spiritual & Religi

Fenomena Buka Puasa Bersama

August 15, 2016 0

Ramadhan bulan penuh ampunan. Jangan sampai bulan yang penuh ampunan ini hilang tanpa makna begitu saja, hanya sekedar menahan haus dan lapar. Selain ramainya penggunaan pakaian muslim di kalangan artis dan di tv-tv, ramainya mesjid-mesjid dengan tarawih, yang tak kalah ramai adalah Buka Bersama, sering disingkat Bukber.

Bukber ini di kalangan perkotaan menjadi fenomena di bulan Puasa. Tak sedikit orang yang sibuk ikut bukber sana bukber sini, yang biasanya mereka lakukan di mal atau di restoran-restoran. Alih-alih mengisi Ramadhan dengan kekhidmatan, bukber menurut saya malah lebih banyak bersifat merusak makna ibadah.

Coba nanti anda perhatikan FB anda, pasti ada teman kita yang hampir tiap hari sibuk bukber.. entahlah, mungkin karena mereka orang-orang sosialita?

  • Bukber membuat kita menjadi kalap, pas buka puasa, segala makanan disantap
  • Bukber kebanyakan dilakukan di mal/restorant, maka supaya tidak kehabisan tempat, minimal satu atau dua jam sebelumnya sudah ada di lokasi. Alih-alih menunggu adzan dengan membaca Quran, malah duduk di meja yang sudah siap makanan dengan mata terus menatap ke arah makanan. Kalau perlu di foto lalu upload ke medsos
  • Bukber biasanya menyebabkan sholat maghrib menjadi molor mendekati waktu Isya.
  • Tempat sholat/musholla di mal/restoran sangat terbatas, akibatnya sholat menjadi tidak khusyu karena buru-buru, atau banyak yang menunda/mengakhirkan sholat maghrib.
  • Bukber menyebabkan tertundanya sholat tarawih berjamaah di mesjid, pulang dari mal/restoran sudah lewat Isya.

Maka, saya sering melarang anggota keluarga saya ikut bukber. Kecuali bukber di mesjid, atau tempat-tempat yang mengutamakan sholat maghrib dan makan secara sederhana.

Makan sahur dan buka puasa, sebenarnya kesempatan bagi keluarga untuk bisa makan bersama di rumah. Akui saja, kalau sebagian dari kita karena kesibukan, sudah jarang makan bersama keluarga, yang justru di saat itulah, komunikasi terjalin.

Ibadah puasa itu tidak dinilai seberapa sering kita bukber kok. Malah buka puasa di rumah pun sedapat mungkin, buatlah secara sederhana saja, jangan sampai, ibu-ibu dan istri-istri kemudian tenggelam dalam kesibukan memasak dan memasak, sampai bingung sendiri.

Jalani bulan ramadhan, dengan memperbanyak ibadah, bukan dengan memperbanyak menu makanan.

0

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code