X
Belajar Ketahanan Pangan kepada Nabi Yusuf a.s.
Pertanian, Spiritual & Religi, Tatar Sunda

Belajar Ketahanan Pangan kepada Nabi Yusuf a.s.

October 31, 2017 0

Dahulu sewaktu saya kecil, ayah saya memanen padinya dengan cara menggunakan étém (ani-ani). Saya paling suka melihat saat ayah saya “mangkek” (mengikat) tangkai-tangkai padi dengan tali bambu. Sayangnya kami saat itu tidak punya leuit (lumbung) padi, jadi ayah saya menyimpannya di goah (gudang pangan) di rumah.

Leluhur bangsa kita menggunakan cara ini dan di beberapa kampung ada masih bertahan. Ternyata dengan cara inilah leluhur kita bisa memiliki ketahanan pangan. Di kampung adat Ciptagelar, saya sempat disuguhi makan dengan beras dari gabah yang sudah berusia 5 tahun.

Sekarang tidak demikian, padi dirontokkan langsung jadi gabah, dijemur, dan kemudian digiling jadi beras. Prosesnya tidak terlalu lama dari sejak dipanen. Beras kemudian disimpan di gudang. Tak lama kemudian, kutu dan jamur mulai hadir, setelah 6 bulan, beras yang digudang pun dibersihkan kembali, disemprot pengusir kutu, dan diputihkan kembali. Sangat jauh kualitasnya dibandingkan beras yang baru digiling.

“Yusuf berkata: Supaya kamu bertanam tujuh tahun (lamanya) sebagaimana biasa; maka apa yang kamu tuai hendaklah kamu biarkan dibulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.” (QS. Yusuf: 47)

Yusuf berkata, “Takwil mimpi itu adalah bahwa kalian akan bertani gandum selama tujuh tahun berturut-turut dan sungguh-sungguh. Kemudian, ketika kalian menuai hasilnya, simpanlah buah itu bersama tangkainya. Ambillah sedikit saja sekadar cukup untuk kalian makan pada tahun-tahun itu dengan tetap menjaga asas hemat.”

Ayat Quran ini sejalan dengan apa yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern bahwa membiarkan biji atau buah dengan tangkainya saat disimpan akan mempu mengawetkan dan mencegah kebusukan akibat faktor udara. Lebih dari itu, buah itu akan tetap mengandung zat-zat makanannya secara utuh.

Gabah langsung dijual, dikeringkan, digiling jadi beras, agar cepat dijual, dapat uang, beli motor, beli ponsel, beli pulsa, beli quota internet, yang mahalnya ga ketulungan. Alangkah sedihnya, jika saya ingin iPad, saya harus menjual hasil singkong saya tidak kurang dari 1 hektar setelah saya tanam selama 9 bulan.

Asas berhemat, mungkin saat ini sudah sulit ditemukan. Greedy menyebabkan hancurnya nilai spiritual dan nilai-nilai kearifan leluhur.

Salam, Kang Eep
Tukang Dongeng Pertanian
Swadaya Petani Indonesia
www.swadayapetani.org

Sumber foto: http://ciletuhpalabuhanratugeopark.org/

0

There are 0 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

code